Posts

Showing posts with the label sastra

Menunggu ( Kicauan Remaja #1)

Image
Jika seseorang itu dapat membuat kita menunggu, bukankah dia seorang yang amat penting? Yang dapat membuat getaran di setiap degup jantung. yang membuat seluruh aliran darah berdesir cepat. dialah yang membuat aku tak sabar menanti hari esok, untuk melihat wajahnya, melihat senyumnya, atau hanya untuk mendengar suara tawanya yang bisa dikatakan renyah.

Jubah Kemuliaan

Seorang anak berumur 10 th namanya Umar..dia anak pengusaha sukses yg kaya raya.. Oleh ayahnya si Umar di sekolahkan di SD Internasional paling bergengsi di Jakarta..tentu bisa ditebak, bayarannya sangat mahal..tapi bagi si pengusaha, tentu bukan masalah..wong uangnya berlimpah… Si ayah berfikir kalau anaknya harus mendapat bekal pendidikan terbaik di semua jenjang..agar anaknya kelak menjadi orang yg sukses mengikuti jejaknya...

Lelaki pemohon hujan (p3)

Sepertinya sekarang adalah musim hujan. Sudah 3 hari hujan terus menerus mengguyur kota ini. Sungguh musim yang sangat kubenci. Tapi, bukankah ini musim dimana seseorang yang kucintai diam-diam, dapat tertawa saat bermain dengan cipratan air yang ia ciptakan dengan sepatunya yang selalu bersih itu?

Lelaki pemohon hujan (p2)

Lihatlah. Kini dimana-mana terdapat genangan air. Sangat menjengkelkan ketika sepatu sekolahku menyentuh genangan berwarna kecoklatan seperti lumpur itu menodai sepatuku. Tapi, ku tatap dia. dia dengan santainya menciprat- cipratkan sepatunya yang terlihat bersih ke dalam genangan itu. sungguh dia sangat menyukai sesuatu yang berhubungan dengan hujan. Wahai lelaki 'pemohon hujan'

Lelaki pemohon hujan (p1)

Hujan turun dengan derasnya. Membuat gelap ruang kelas ini yang sebelumnya disinari mentari berwarna senja. Dingin kiniku rasa. Keriuhan didalam kelas ini tiba-tiba saja hilang, suasana menjadi senyap. Sepertinya banyak sekali yang menyukai wahai hujan? Apa yang membuatmu banyak disukai teman-temanku hingga mampu membuat mereka semua terdiam? Padahal menatapku dapat membuat kita mengenang kenangan yang tidak ingin kita ingat kembali. Alasan itulah yang membuat diriku dulu membencimu.

Arah jam

Kepadatan para pejalan kaki Derau bising kendaraan Bukan. Bukan hadirku disitu

Kau yang tak tergapai

Kini ku sakit Jatuh terhempas akibat cinta Bukankah dari awal ku telah tau? Bagaimana bila rasa ini tetap terus tumbuh.

Bukankah?

Menurut kata orang lain, sifatku terlalu dingin untuk dicairkan oleh hangatnya dia. Dia yang selalu sabar menghadapiku. Dia yang tak ambil pusing oleh sifatku. "Itulah dia apa adanya" katanya. Banyak yang memprotes jawabannya. Tapi ia dihadapi dengan tenang, "toh dia tak seperti kebanyakan orang yang bersandiwara.